Taman Pintar Yogyakarta terus berbenah. Terutama untuk menambah sarana pembelajaran sains dan mendekatkan beragam fenomena pengetahuan kepada anak-anak usia TK hingga SMA.
Bangunan yang terletak di kawasan pusat kota Yogyakarta tak jauh dari Benteng Vredeburg dan Istana Negara Yogyakarta itu, kini menjadi favorit kunjungan ribuan anak-anak dari berbagai kota.
“Angka kunjungan terus meningkat tiap tahun. Sejak Taman Pintar dibuka untuk wisata minat khusus, banyak anak-anak tertarik mengetahui ragam permainan dan ekshibisi ilmu pengetahuan yang kita sediakan,” kata Ernie Februaria, Humas dan Pemasaran Taman Pintar Yogyakarta, Rabu (3/6).
Maklum. Keragaman wahana ilmu pengetahuan yang tersedia dirancang untuk mendukung kurikulum pembelajaran sains di sekolah. Anak-anak dapat melihat dan merasakan ragam permainan yang menunjukkan fenomena sains yang bisa dipelajari sambil bermain.
Data kunjungan ke Taman Pintar menunjukkan, sejak mulai beroperasi tahun 2007 setelah soft launching oleh Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo dan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman, tercatat: ada 300 ribu kunjungan siswa per tahun. Bahkan, di tahun 2008 meningkat menjadi 795 ribu.
Bahkan, untuk tahun 2009, pengelola mematok target kunjungan bisa 1 juta pengunjung. “Tapi kita tak berorientasi profit murni, karena ada misi sosial yang kita emban. Maka ada zona yang memang gratis untuk dikunjungi,” katanya.
Di lokasi wahana ekspresi, apresiasi dan kreasi sains yang suasananya menyenangkan, anak-anak betah bermain sekaligus mengambil pelajaran. Tersedia informasi lengkap soal penerapan sains. “Permainan katrol misalnya, itu penerapan Teori Newton yang akan mudah dipahami anak-anak,” katanya.
Untuk mengenal ilmu-ilmu dasar, anak-anak usia TK bisa bermain zona playground. Misalnya ada permainan spektrum cahaya, pipa bercerita dan rumah pohon. Anak-anak juga bisa bermain sepuasnya di permainan air menari dan koridor air. Mereka yang lebih dewasa bisa mengenali teknologi populer yang canggih di gedung kotak.
Untuk menikmati ragam permainan yang tersedia, pengelola memang tak mengedepankan profit. Meski, fakta, untuk beberapa zona, pengunjung diharuskan membayar tiket. Namun besaran harga tiketnya tak mahal. Hanya Rp5.000 untuk siswa dan Rp 10.000 untuk pengunjung umum.
Tiket itu bisa digunakan untuk masuk ke gedung oval yang berisikan pengenalan lingkungan dan ekshibisi pengetahuan. Mulai dari hewan prasejarah, miniatur tata surya, bola Van De Graf—untuk memahami fenomena kelistrikan—hingga zona pemaparan sejarah ilmu pengetahuan dan teknologi. Anak-anak juga bisa mengenal tokoh ilmuwan dunia melalui fasilitas teknologi informasi yang tersedia.
Ernie mengatakan, anak-anak yang berkunjung ke Taman Pintar diharapkan mampu mengejawantahkan ajaran Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional dengan niteni (memahami), niroake (menirukan) dan nambahi (mengembangkan). Hal itu bisa dipraktikkan dalam kegiatan bermain dan kelengkapan informasi di tiap lokasi wahana yang ada.
“Kita ingin ikon Taman Pintar itu meneguhkan Yogyakarta sebagai kota pendidikan (city of education). Sebelum berkunjung ke sini, berarti belum lengkap merasakan aura pendidikan di Yogyakarta,” kata Ernie. n Much Fatchurochman -Jurnal Nasional-
http://www.diknas.go.id/headline.php?id=509
Leave a Reply